Senin, 16 November 2009

8 Langkah Perencanaan Strategis

Apakah Perencanaan Strategis itu?
Perencanaan (planning-takhthiith) adalah perumusan tujuan awal meliputi prosedur, metode, dan jadwal pelaksanaannya. Di dalamnya termasuk ramalan (prakiraan) tentang kondisi di masa mendatang dan perkiraan akibat rencana terhadap kondisi tersebut (Kamus Istilah Manajemen, LPPM, 1994).
Perencanaan yang sangat menentukan kehidupan seseorang atau institusi pada masa yang akan datang disebut dengan perencanaan strategis. Dalam istilah lain, perencanaan strategis (strategic planning-at-takhthiith al-istiraatiijiyah) adalah proses manajerial dalam pengembangan dan pemeliharaan kaitan eksistensi perusahaan atau organisasi dengan sasaran perusahaan atau organisasi dan peluang lingkungannya. (Kamus Istilah Manajemen, LPPM, 1994).


Urgensi Perencanaan Strategis (ahammiyah at-takhthiith al-istaraatiijiyah)
Pada umumnya kebutuhan manusia tak terbatas (unlimited need). Tetapi sumber daya yang dimilikinya sangat terbatas (limited resources). Kesenjangan antara keduanya itu memaksa orang melakukan perencanaan. Jadi, urgensi perencanaan strategis adalah agar sumber daya yang sangat terbatas dapat untuk mencapai tujuan yang diharapkan dengan efektif dan efisien.
Al-Quran sendiri mengajarkan, untuk membuat perencanaan strategis harus mengaitkan empat unsur sekaligus: data dan informasi (past time), kondisi sekarang (current/present time), perkiraan ke depan (future/next time), serta perlunya sumber daya (resources) untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Simaklah firman Allah, ayat 18 surat al-Hasyr, "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah (current/present time) dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (past time) untuk keperluan perencanaan hari esok-akhirat (future/next time), dan bertakwalah kepada Allah (resources), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".


Logika Sekuensial Berfikir Strategis
Bagi orang atau lembaga yang telah punya tujuan, maka perencanaan strategis diawali dengan merencanakan untuk membuat perencanaan (planning for plan). Sedang yang belum punya, perencanaan strategis akan dimulai dengan merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
Pada kesempatan ini akan disampaikan penjelasan sekuensial dari langkah-langkah berfikir strategis untuk tipe kedua, yaitu 'merumuskan tujuan'. Setidaknya, ada delapan langkah yang harus dilakukan.


Pertama, dalam setiap tindakan kita harus punya tujuan. Tujuan yang sangat jauh dari jangkauan kita bisa jadi masih berupa angan-angan (vision-dairatul khayal).


Kedua, membuat angan-angan atau visi tersebut menjadi rumusan misi (mission-risalah) yang ingin dicapai. Agar lebih profesional maka misi harus tertulis dengan baik (mission statement). Lalu disebarluaskan kepada seluruh pihak terkait agar mereka selalu bergerak dalam orientasi pencapaian misi bersama yang ingin dicapai (Management by Objective-MBO). Penguasaan konsep dan wawasan (al-isti'ab al-manhaj/an-nadzori) sangat diperlukan dalam penyusunan visi dan misi organisasi.


Ketiga, membuat observasi medan (scanning environment) baik internal maupun eksternal dengan metode SWOT analysis. Strenght (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang), dan Threat (ancaman dan kendala). Strenght dan weakness lebih untuk sisi internal. Sedangkan, opportunity dan threat untuk sisi eksternal.
Untuk analisa internal, anda harus melihat kondisi ke dalam lembaga meliputi kinerja harian, mentalitas staf, soliditas tim, dll. Anda juga harus mempelajari seluruh laporan (tahunan, proyek dan laporan lainnya) yang berasal dari lembaga anda.
Sedangkan sisi eksternalnya, anda perlu memperoleh data sebanyak-banyaknya - yang berhubungan dengan misi anda - berupa komponen-komponen umum meliputi masyarakat, pembeli (buyers), pengguna fans (customer), pendukung (stake holders), pemasok (suppliers), dll.


Keempat, membuat langkah-langkah untuk perencanaan strategis (mapping). Artinya, setelah misi dan kondisi medan terciptakan, maka tinggal merencanakan langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan.
Karena tujuan akhir (visi) tidak akan langsung dapat dicapai dengan sekali kayuhan, maka perlu dibuat tahapan pekerjaan. Tahapan pertama harus melalui pekerjaan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga sampai pada tujuan akhir (visi). Dalam tahap ini, penguasaan medan (al-isti'ab al-maidani) sangat diperlukan.


Kelima, melakukan observasi kinerja dan analisa kesenjangan kinerja dari apa yang seharusnya dikerjakan dengan kondisi lapangan. Seringkali rencana tinggal rencana, gagasan tinggal gagasan. Karenanya, perlu dianalisa kendala apa yang menyebabkan kegagalan. Lalu diambil pelajarannya untuk memperbaiki keadaan.


Keenam, membuat perencanaan yang terintegrasi (integrating action plans). Hasil analisa pada langkah kelima sangat bermanfaat untuk membuat agenda aksi yang lebih konkrit. Dalam lembaga biasanya digunakan SOP (Standart Operating Procedures) atau prosedur tetap (protap). Tetapi jika ditemukan kendala-kendala di lapangan saat pelaksanaan, perlu improvisasi berdasarkan azas fleksibilitas konsep. Kreativitas individu dan inovasi dalam hal ini sangat diperlukan.


Ketujuh, mengamalkan agenda aksi (implementation of plans). Pada tahap ini agenda aksi yang akan dilakukan betul-betul sudah mengacu pada langkah-langkah sebelumnya, walaupun paa saat pelaksanaan seringkali masih ada improvisasi. Jangan sampai yang terjadi adalah NATO (no action talk only) atau NAPO (no action plan only). Sesungguhnya fikroh yang baik adalah fikroh menekankan aspek produktivitas (amal) berlandaskan pemahaman (fahmu) yang utuh. Bukan fikroh yang hanya bertumpu pada slogan dan propaganda.
Banyak komponen penting yang harus ada pada saat pelaksanaan mencapai tujuan. Seperti selalu mau bekerja (istiqomah) dan terus menerus dalam bekerja (istimror), etis dan konsekuen, mengacu kepada kaidah moral, selalu komitmen dengan kejujuran, berorientasi mutu dan pelayanan pelanggan, rela berkorban (tadhhiyah), sungguh-sungguh dalam bekerja (tajarrud), dan soliditas tim (team work-'amal jama'i). Pada langkah ini gunakan tools yang aplikatif, seperti penerapan fiqh muwazanat, fiqh aulawiyat, fiqh da'wah dan lainnya.


Kedelapan, selalu melakukan evaluasi (mutaba'ah dan muhasabah) dengan teratur. Pada fase ini buatlah catatan harian kerja anda. Buatlah daftar check-list tentang kegiatan.Buatlah laporan yang rapi sebagai bahan evaluasi. Lakukan evaluasi dengan mengacu kepada misi utama. Terkait dengan langkah ini, anda harus selalu memberikan intervensi dengan segera atas temuan dan informasi baru, baik yang datang dari dalam lembaga maupun dari luar lembaga. Dari sana, siapa tahu anda harus melakukan revisi di berbagai tahapan perencanaan strategis yang telah anda buat.


Selamat mencoba. Wallahu 'alam bisshowab.

0 komentar:

Posting Komentar