Minggu, 08 November 2009

Bila Tidak Mencintai Istri Anda

Ada tulisan menarik dari ustad Anis Matta. Sangat tepat dibaca oleh pasangan suami istri yang mulai ada tanda-tanda terkena erosi cinta terhadap pasangannya. Ok, langsung saja, selamat membaca.


Bahwa seorang suami tidak mencintai istrinya, atau sebaliknya, adalah situasi yang bisa terjadi setiap saat dalam kehidupan rumah tangga. Penyebabnya juga bisa sangat beragam. Mungkin karena kurang mengenal calon pasangan dengan baik, mungkin menikah karena paksaan keluarga, mungkin karena pengkondisian yang kurang natural dari seseorang yang disegani dan harus ditaati, mungkin karena ada sebab lain yang muncul di perjalanan atau lainnya.

Apa yang harus anda lakukan jika ternyata anda mengalami hal itu?

Sesuatu yang harus kita yakini lebih dulu, masalah ini merupakan peristiwa kehidupan yang sangat natural. Karena untuk sebagiannya, mencintai merupakan kerja jiwa yang sangat pribadi dan sangat sulit dikendalikan oleh manusia. Maka ia bisa terjadi setiap saat, dan pada semua orang. Masalahnya tidaklah terutama terletak pada: apakah anda mencintai atau tidak mencintainya, lebih daripada: bagaimana anda seharusnya bersikap pada kedua situasi itu dalam kehidupan rumah tangga. Skala sikap di sini maksudnya adalah motif dan bentuk ekspresi. Artinya, mengapa anda tidak mencintainya? Lalu, bagaimana anda mengekspresikan ketidakcintaan anda?

Kalau sudah dipahami, maka kenyataan bahwa anda tidak mencintai istri anda (atau suami) anda harus diletakkan dalam konteks makna syar'inya, yaitu: bahwa anda berada dalam posisi sebagai orang yang tertimpa musibah. Ini mengharuskan anda bersabar dan berusaha menemukan hikmah di balik firman Allah ini:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Dan Allah Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqoroh:216)
Kesabaran selalu memudahkan jiwa memandang masalah secara jernih, dan ini secara perlahan akan mengantar kita menemukan banyak hal yang selama ini tersembunyi di balik satu masalah. Yang nampak bagi saya dari perenungan bahwa sabar merupakan salah satu induk akhlak yang banyak terulang dalam al-Quran dan tertera untuk beragam variasi peristiwa kehidupan. Maka, firman Allah: "Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan sholat." (Al-Baqoroh: 153)

Selain karena faktor fisik, pada umumnya rasa tidak suka atau benci terhadap istri-terutama yang muncul di tengah perjalanan perkawinan-biasanya disebabkan oleh perilaku (atau kualitas kepribadian secara umum) yang kurang menyenangkan atau bahkan buruk. Misalnya seorang sahabat yang mengadukan istrinya kepada umar karena terlalu cerewet. Tetapi Rasulullah saw. sang teladan, menyuruh untuk bersikap imbang: bahwa pada setiap orang ada sisi baik da ada sisi buruk, dan keduanya harus dilihat secara seimbang. Maka beliau pun bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya:
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Sebab bila ada satu sikap yang ia benci darinya, boleh jadi ada sikap lain yang justru ia suka."

Ada banyak di antara kita yang mengharap terlalu banyak dari istrinya, dan inilah celah yang menyisakan kemungkinan kecewa yang juga berlebihan. Bahwa kita mengaharap kadar kualitas kepribadian tertentu dari pasangan kita. itu natural. Tapi jika harapan itu melampaui batas kemampuannya, kita harus segera berpikir bahwa boleh jadi harapan dan kekecewaan yang juga dirasakan pasangan kita terhadap kita sendiri sebagai suami. Harus ada keseimbangan antara harapan yang wajar dan kesiapan untuk kecewa yang juga wajar.

Masalahnya adalah, haruskah kekecewaan itu diungkap? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Lihatlah situasi kejiwaannya untuk mengetahui apakah pengaruh yang ditimbulkan oleh ya atau tidak. Untuk tujuan mempertahankan kesalingpercayaan dan keutuhan komunikasi, pada sebagiannya kekecewaan itu sebaiknya dipendam. Kesabaran dan kebesaran jiwa seharusnya membuat kita sanggup menutupi kekecewaan itu dengan senyum, agar hati dan perasaan pasangan kita dapat selalu terjaga. Karena apa yang paling menyakitkan hati wanita adalah ketika ia mengetahui bahwa suaminya tidak mencintainya. Sebagian ulama bahkan menganjurkan untuk tetap tersenyum walaupun senyum itu dipaksa-paksakan (berpura-pura). Dan untuk salah satunya, inilah alasan yang membolehkan seorang suami berdusta kepada istrinya, atau sebaliknya, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ummu Kultsum binti 'Uqbah, yang berkata: bahwa aku tidak pernah mendengarkan Rasulullah membolehkan sedikitpun kedustaan kecuali dalam tiga hal: (salah satunya) dusta seorang suami kepada istrinya (untuk kebaikan). Sebab boleh jadi, ketika anda berpura-pura mencintai istri anda, Allah berkenan membuat anda benar-benar mencintainya. Demikian juga sebaliknya. Dan alangkah mudahnya itu di sisi Allah.

Tapi, kadang untuk tujuan pendidikan, atau pelepasan jiwa yang sudah tidak tertahankan anda juga perlu mengekspresikan kekecewaan itu. Bahkan, situasi semacam itu mungkin saja berkembang sedemikian rupa sampai pada tingkat dimana Islam membolehkan seseorang mengambil keputusan cerai. Seorang shahabiat pernah meminta diceraikan oleh suaminya yang menurutnya (maaf) paling jelek di antara yang lain. Dan Rasulullah saw. membolehkannya. Islam memang memberikan beberapa pilihan keputusan, tetapi-pada waktu yang sama-juga senantiasa menganjurkan memilih keputusan yang paling menguntungkan kedua pihak. Anak-anak, dalam hal ini, adalah pihak yang sangat rentan terhadap kerugian sebagai korban perceraian. Kebebasan mengambil keputusan itu, di sini, bertemu dengan tanggung jawab.

Tapi, dalam hikam Allah, terkadang ia dengan sadar hanya bisa ditegakkan dengan tanggung jawab. Tanpa cinta. Begitulah seorang lelaki mendatangi Umar untuk menceraikan istrinya karena ia sudah tidak mencintainya lagi. Tapi, kebijakan yang dalamlah yang mendorong Umar mengatakan, "Maka dimanakah kita menegakkan tanggung jawab itu? Tidak bisakah rumah tangga itu ditegakkan dengan tanggung jawab saja?"

Bila, karena hikmah Allah, anda mengalami masalah ini, dan memutuskan untuk memilih tanggung jawab, lalu dengan kesabaran dan kebesaran jiwa, anda terus berusaha mencintainya, menjaga jangan sampai perasaannya hancur dan retak, walaupun mungkin anda tidak akan pernah sampai mencintainya, maka simpanlah kenyataan ini dalam memori nurani anda: bahwa ternyata ada kembaran anda dalam sejarah. Dialah Abu Utsman Al-Naisaburi.

Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam "Shaed Al-Khathir" kisah berikut ini: "Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: 'Amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?' Beliau menjawab, 'sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu, suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, 'Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon-atas nama Allah-agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.' Maka aku pun menemui orang tuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku putrinya.Tapi, ketika wanita datang menemuiku-setelah akad-, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi, ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Akupun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikitpun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.

Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya, hingga akhirnya ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, ketulusan cintanya".

Dan kesetiaan itu adalah bintang di langit kebesaran jiwa.

Mudah-mudahan tulisan di atas sedikit mempertahankan cinta kita terhadap pasangan.

0 komentar:

Posting Komentar